4pm

4PM: Ketegangan yang Menjanjikan, Berakhir Kekecewaan

Posted on Views: 11 views

Film 4PM karya Jay Song debut di Festival Film Internasional Fantasia, dan sejak awal sudah menunjukkan potensi luar biasa. Diadaptasi dari novel *The Stranger Next Door* karya Amélie Nothomb, film ini memperkenalkan kita pada kisah sederhana tapi penuh misteri: seorang profesor, Jung-in (Oh Dal-su), memutuskan mengambil cuti dan pindah ke pedesaan bersama istri tercinta, Hyun-sook (Jang Young-nam). Rumah mereka tampak tenang, damai, dan penuh harapan. Namun, semuanya berubah saat mereka menerima ketukan di pintu tepat pukul 4 sore dari tetangga mereka, Dokter Park Yook-nam (Kim Hong-pa).

Dokter itu duduk diam di ruang tamu, tanpa banyak bicara, lalu pergi tepat pukul 6 sore. Awalnya, pasangan ini menganggapnya sekadar keanehan, kesempatan untuk saling mengenal. Tapi kebiasaan dokter ini tidak berhenti di situ. Ia datang setiap hari pukul 4, duduk, minum teh, lalu pergi lagi. Ketidakpastian ini mulai mengganggu ketenangan mereka. Usaha mereka mengusirnya pun gagal, dan film pun berbelok ke arah yang lebih gelap dan kompleks.

Di awal, 4PM memikat dengan sinematografi yang sederhana namun elegan, menggambarkan kehidupan idealis pasangan suami-isteri. Tapi seiring waktu, ketegangan mulai memuncak. Kamera bergoyang, distorsi fisheye digunakan untuk menambah rasa tidak nyaman, dan penyuntingan menjadi semakin tajam. Montase dan potongan gambar yang efektif menunjukkan bagaimana kehadiran misterius sang dokter mulai mengambil alih kehidupan mereka. Menjelang pertengahan, film ini benar-benar menyedot perhatian, menawarkan ketegangan yang kian memuncak, sampai akhirnya terungkap sesuatu yang mengingatkan kita pada film Parasite.

Namun, di balik ketegangan dan ketertarikan awal, 4PM mulai kehilangan arah. Cerita yang sebelumnya terasa sederhana dan terukur tiba-tiba berbelok ke arah yang absurd dan kurang masuk akal. Karakter yang awalnya terasa nyata dan penuh kedalaman, di bagian kedua menjadi tidak konsisten. Profesor yang dulu tenang dan stabil berubah menjadi sosok yang sulit dikenali, melakukan tindakan yang terasa tidak logis. Upaya film ini untuk menyelidiki sisi gelap manusia —bagaimana bahkan yang paling stabil bisa tergoda melakukan kekerasan saat kewarasan mereka terancam— pada akhirnya terasa setengah matang dan tidak memuaskan.

Saya merasa kecewa karena “4PM” yang awalnya menjanjikan, tidak mampu mempertahankan ketegangannya hingga akhir. Meski visualnya memukau dan eksperimen kameranya menambah nuansa tegang, cerita yang disajikan terasa datar dan kehilangan fokus di tengah jalan. Ada momen terakhir yang meninggalkan kesan mendalam dan akan terus membekas di ingatan, tetapi pertanyaannya, dengan harga apa?

Kesimpulan

Film ini adalah contoh bagaimana sebuah karya yang berpotensi besar, jika tidak dikelola dengan hati-hati, bisa kehilangan kekuatannya di tengah jalan. “4PM” menawarkan pengalaman visual yang menarik dan pengamatan terhadap ketegangan manusia yang mendalam, tetapi sayangnya, cerita dan pengembangan karakter yang kuat tidak cukup dipupuk untuk membuat film ini benar-benar berkesan. Sebuah karya yang awalnya memikat, namun akhirnya meninggalkan rasa kekosongan dan pertanyaan yang belum terjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.