Halo, Drakorers! Siapa sangka, dari niat sekadar menyaksikan drama olahraga ringan, saya malah disambut oleh sebuah kisah yang penuh lapisan, berani, dan menyentuh hati. The Winning Try bukan sekadar cerita tentang rugby, tapi kisahnya tentang manusia, luka, harapan, dan kebangkitan dari kekacauan yang tampak tak beraturan.
Dimulai dengan kisah Ju Ga-ram (Yoon Kye-sang), mantan bintang rugby Korea yang kariernya hancur akibat skandal doping. Kini, dia kembali ke Hanyang High sebagai pelatih di sebuah tempat yang lebih mirip lokasi kekacauan daripada lapangan latihan. Tim yang diwarisinya? Kalah 25 dari 26 pertandingan, berisik, kacau, dan mungkin sedikit liar dalam ketidak-mampuan mereka. Kekacauan ini, anehnya, menjadi kekuatan utama dari drakor ini sejak detik pertama.
Dalam kekacauan itu, energi dan ketulusan menyala. Latihan yang anarkis, pidato yang berubah menjadi teriakan-teriakan penuh kebingungan, bola rugby yang beterbangan ke segala arah, semuanya terasa sengaja dibuat penuh gairah dan keaslian. Sutradara Jang Young-seok, yang sebelumnya menggarap Taxi Driver 2, memacu cerita dengan kecepatan tinggi dan energi yang tak berhenti, mengganti kehalusan dengan ketegangan kinetik yang menggetarkan.
Di tengah kekacauan itu, kekuatan nyata hadir melalui manusia. Ga-ram bukan pahlawan yang bersemangat di awal; dia ragu, out of shape, dan masih dihantui masa lalu. Dia datang bukan dengan rencana besar, melainkan karena tak punya pilihan lain. Aktor ini menyampaikan nuansa penyesalan, keteguhan kecil, dan harapan yang nyaris tak terlihat. Kehadirannya membangkitkan luka lama: Bae I-ji (Lim Se-mi), mantan kekasihnya selama sepuluh tahun dan pelatih menembak di sekolah, merasa rutinitasnya terganggu, ketegangan lama kembali mengemuka, dan keduanya berjuang menanganinya dengan cara mereka sendiri.
Yoon Seong-joon (Kim Yo-han), bukan hanya pemain rugby, tapi simbol dari tema utama cerita ini. Seorang anak yang bekerja keras, dengan rasa minder dan kompleks karena keberhasilan kakaknya, dia mewakili dorongan diam-diam di balik kekacauan. Di episode awal banyak menampilkan ekspresi dan bahasa tubuh: rahang yang kaku, mata yang lelah, campuran rasa marah dan ambisi, semuanya lebih mengena daripada kata-kata.
Plotnya pun sederhana namun efektif: Ga-ram setuju menjadi pelatih, kekalahan tim terbuka, luka lama muncul kembali, dan harapan pun terselip; mungkinkah mereka meraih medali di Festival Olahraga Nasional jika berusaha keras? Tapi, kecepatan cerita memberi ruang untuk keheningan tatapan di koridor, percakapan canggung, momen di mana kekacauan tak selalu berarti kegagalan, melainkan jalan menuju pertumbuhan pribadi.
Apa yang membuatnya berbeda? Emosi hidup dalam kekurangan dan keaslian. Penyuntingan tidak menutupi kesalahan, malah menonjolkannya, sebuah keberanian yang menyegarkan. Penonton diajak membaca ekspresi, menafsirkan keheningan yang canggung, dan merasakan konflik yang tersirat dari pandangan sekilas. Penampilan para pemeran kuat menyokong pendekatan ini: Kye-sang menjaga semuanya tetap utuh saat segala kekacauan berjatuhan, Se-mi memperlihatkan keteguhan diam-diam sebagai pelatih sekaligus mantan pasangan, dan Kim Yo-han mampu menyalurkan frustrasi muda menjadi sesuatu yang nyata dan menyentuh.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Beberapa bagian terasa terburu-buru dan kurang fokus. Adegan berpindah tanpa penjelasan yang cukup, membuat penonton terkadang bertanya-tanya tentang karakter latar atau arti kekacauan yang muncul di ruang ganti. Beberapa momen dramatis terasa kurang “mendalam,” karena belum cukup waktu untuk benar-benar dipedulikan. Kadang, cerita mengorbankan kejelasan demi energi yang terasa sangat kinetik.
Humor di sini juga campur aduk. Kadang mengocok perut, tapi di lain waktu terasa janggal, seperti lelucon yang dipaksakan di tengah kekacauan yang serius. Dalam drama olahraga yang berakar pada realisme ini, beberapa momen humor terasa tidak natural dan kurang pas.
Kekhawatiran terbesar saya adalah jika kamu mengharapkan narasi yang rapi dan halus, mungkin akan kecewa. The Winning Try lebih kasar, lebih keras, dan tidak selalu rapi. Sepertinya memang sengaja dibuat begitu, dan justru memberi warna tersendiri. Ia mungkin tidak memuaskan mereka yang menginginkan struktur yang sempurna, tetapi untuk mereka yang mencari cerita yang berani, jujur, dan penuh energi, ini adalah pengalaman yang menarik.
Keberanian dalam penampilan dan narasi menunjukkan bahwa, di balik kekacauan, ada kekuatan untuk menyentuh hati dan menginspirasi. Kisah ini tidak menjanjikan jalan mudah menuju kemenangan, melainkan menampilkan perjuangan, luka, dan ketekunan yang nyata. Di akhir episode 1, meskipun tidak ada kemenangan besar, tersirat sebuah harapan: “Ini akan semakin sulit,” dan itu justru membuat kisah ini memikat.
Drakorers, jika kalian mencari drama yang lebih dari sekadar olahraga, yang mengangkat kisah manusia dengan segala kekurangannya, The Winning Try adalah awal yang penuh janji. Sebuah cerita tentang masa lalu, kepemimpinan, dan peluang kedua yang, meskipun berantakan, namun penuh potensi. Saya sendiri merasa penasaran dan terinspirasi, ingin melihat bagaimana Ga-ram membuktikan diri, dan apakah kisah ini akan mengajak kita ke perjalanan penuh ketegangan dan harapan.
Yuk, nantikan nonton bersama-sama episode berikutnya!

